Hari hariku semakin hari semakin tak menentu, menunggu sesuatu yang bahkan aku tak tahu apa itu. Apakah itu dirimu ? Apakah orang lain ? Atau bahkan tak ada sama sekali. Aku tahu setahun belakangan ini, aku mulai maju untuk beberapa hal yang menyangkut dirimu. Setidaknya itu lebih baik dari pada saat aku menyukaimu pada tahun tahun pertamaku. Aku tahu, aku beruntung berada diantara teman teman yang sangat mendukungku dan mengerti betapa aku terhadap dirimu. Saat tahun pertamaku, aku hanya bisa memandangmu jauh, dan pura pura tak acuh. Aku malu, aku minder, aku ……..
Kamis, 25 Oktober 2012
Pagi Indah Untuk Dira
Happy reading guys !
PAGI INDAH UNTUK DIRA
Ini adalah hari pertamaku sebagai siswa SMA rasanya masih belum percaya. Dulu seragamku putih biru , sekarang sudah berganti putih abu-abu. Tapi, aku rasa bukan seragam yang menjadi masalah , satu hal yang baru itu adalah suasana . Yah, beradaptasi. Sadar atau tidak , saat kita mulai merasa cocok dengan satu suasana , tiba-tiba semua itu harus kita relakan pergi. Seperti ini , disaat aku mulai merasa nyaman dengan sahabatku di SMP , sekarang kita masing-masing memilih jalan sendiri. Ya sudahlah, memang begitukan kehidupan.
Upacara pertamaku di SMA Harapan Bangsa. Semua siswa terlihat rapi. Terutama anak kelas X. Baju mereka terlihat putih bersih , jika bandingkan dengan kelas XI dan XII tentu berbeda.
Aku mulai memasuki ruang kelasku , X 9. Beruntung aku tidak terlambat , sehingga aku tidak harus duduk paling belakang. Ah, ini yang paling aku benci. Aku memang orang yang cuek. Aku lebih suka disapa dari pada menyapa. Daripada aku mati gaya, aku main-mainkan saja pulpen di jariku. Sayangnya, pulpen itu terjatuh. Saat aku mendapatkan pulpenku, tiba-tiba seseorang berdiri tepat dihadapanku.
“Maaf, boleh aku duduk disini?” senyumnya begitu tulus.
Tanpa sadar aku mengganggukkan kepala. Anak itu mengulurkan tangannya,
“Namaku Netta, nama kamu siapa ?” tanyanya ramah .
Tersentak, aku membalas uluran tangannya, “Namaku, Vindira panggil aja Dira”. balasku dengan senyum semanis mungkin.
Padahal, baru hari pertama aku masuk menjadi anak SMA , rasanya sudah rindu dengan teman-teman SMP . Sedang apa ya mereka sekarang ?
Ah, kenapa aku begini? Harusnya aku menikmati masa SMAku. Bukankah kata orang SMA adalah masa yang paling indah.
PAGI INDAH UNTUK DIRA
Ini adalah hari pertamaku sebagai siswa SMA rasanya masih belum percaya. Dulu seragamku putih biru , sekarang sudah berganti putih abu-abu. Tapi, aku rasa bukan seragam yang menjadi masalah , satu hal yang baru itu adalah suasana . Yah, beradaptasi. Sadar atau tidak , saat kita mulai merasa cocok dengan satu suasana , tiba-tiba semua itu harus kita relakan pergi. Seperti ini , disaat aku mulai merasa nyaman dengan sahabatku di SMP , sekarang kita masing-masing memilih jalan sendiri. Ya sudahlah, memang begitukan kehidupan.
Upacara pertamaku di SMA Harapan Bangsa. Semua siswa terlihat rapi. Terutama anak kelas X. Baju mereka terlihat putih bersih , jika bandingkan dengan kelas XI dan XII tentu berbeda.
Aku mulai memasuki ruang kelasku , X 9. Beruntung aku tidak terlambat , sehingga aku tidak harus duduk paling belakang. Ah, ini yang paling aku benci. Aku memang orang yang cuek. Aku lebih suka disapa dari pada menyapa. Daripada aku mati gaya, aku main-mainkan saja pulpen di jariku. Sayangnya, pulpen itu terjatuh. Saat aku mendapatkan pulpenku, tiba-tiba seseorang berdiri tepat dihadapanku.
“Maaf, boleh aku duduk disini?” senyumnya begitu tulus.
Tanpa sadar aku mengganggukkan kepala. Anak itu mengulurkan tangannya,
“Namaku Netta, nama kamu siapa ?” tanyanya ramah .
Tersentak, aku membalas uluran tangannya, “Namaku, Vindira panggil aja Dira”. balasku dengan senyum semanis mungkin.
Padahal, baru hari pertama aku masuk menjadi anak SMA , rasanya sudah rindu dengan teman-teman SMP . Sedang apa ya mereka sekarang ?
Ah, kenapa aku begini? Harusnya aku menikmati masa SMAku. Bukankah kata orang SMA adalah masa yang paling indah.
Langganan:
Komentar (Atom)


