Kamis, 25 Oktober 2012

Pagi Indah Untuk Dira

Diposting oleh Jingga Langit Tenggara di 05.09
Happy reading guys !

PAGI INDAH UNTUK DIRA


Ini adalah hari pertamaku sebagai siswa SMA rasanya masih belum percaya. Dulu seragamku putih biru , sekarang sudah berganti putih abu-abu. Tapi, aku rasa bukan seragam yang menjadi masalah , satu hal yang baru itu adalah suasana . Yah, beradaptasi. Sadar atau tidak , saat kita mulai merasa cocok dengan satu suasana , tiba-tiba semua itu harus kita relakan pergi. Seperti ini , disaat aku mulai merasa nyaman dengan sahabatku di SMP , sekarang kita masing-masing memilih jalan sendiri.  Ya sudahlah, memang begitukan kehidupan.
Upacara pertamaku di SMA Harapan Bangsa. Semua siswa terlihat rapi. Terutama anak kelas X. Baju mereka terlihat putih bersih , jika bandingkan dengan kelas XI dan XII tentu berbeda.
Aku mulai memasuki ruang kelasku , X 9. Beruntung aku tidak terlambat , sehingga aku tidak harus duduk paling belakang. Ah, ini yang paling aku benci. Aku memang orang yang cuek. Aku lebih suka disapa dari pada menyapa. Daripada aku mati gaya, aku main-mainkan saja pulpen di jariku. Sayangnya, pulpen itu terjatuh. Saat aku mendapatkan pulpenku, tiba-tiba seseorang berdiri tepat dihadapanku.
 “Maaf, boleh aku duduk disini?” senyumnya begitu tulus.
Tanpa sadar aku mengganggukkan kepala. Anak itu mengulurkan tangannya,
 “Namaku Netta, nama kamu siapa ?” tanyanya ramah .
Tersentak, aku membalas uluran tangannya, “Namaku, Vindira panggil aja Dira”. balasku dengan senyum semanis mungkin. 
Padahal, baru hari pertama aku masuk menjadi anak SMA , rasanya sudah rindu dengan teman-teman SMP . Sedang apa ya mereka sekarang ?
Ah, kenapa aku begini? Harusnya aku menikmati masa SMAku. Bukankah kata orang SMA adalah masa yang paling indah.

    ***   
    Tidak butuh waktu yang lama untukaku, akrab dengan teman sekelasku, apalagi Netta, wah dia anaknya asik. Aku merasa nyaman berteman dengannya. Disekolahku diadakan lomba menulis cerpen, masing-masing kelas mengirimkan dua orang wakilnya. Yah, sialnya aku dan Netta yang menjadi wakilnya. Kata mereka sih, biar adil kan sudah ada tugas masing-masing, pasrah deh.
“Ra, coba tebak aku ketemu siapa tadi di koridor ?” kata Netta.
“Hah? Siapa?” tanyaku penuh heran.
 “Aduh , siapa lagi kalo bukan Citra. Seneng banget , liat dia kepeleset, salahnya sendiri jalan aja kaya kucing abis keserempet tukang cimol depan sekolah.” Ceritanya panjang dan penuh senyum kemenanangan.
Aku sih cuma manggut-mangggut, “Yah, kayaknya gak selebai itu deh , sekarang anaknya gimana? Hehe.” kataku penasaran.
“Yah , aku kira kamu mau ceramah panjang lebar, soalnya aku mau pergi nih,nggak taunya minta dilanjutin . Gubrak !”
Aku langsung menyahutinya “ Yee, nggak apa-apa kan sekali-kali.”Aku tersenyum, dengan memerlihatkan gigiku yang rapih.

“Iya, aku ceritain , tapi kayaknya nggak usah iklan pasta gigi gitu deh .” katanya sambil meledek.
“Iya deh , jadinya mau cerita nggak, udah keburu nggak mood nih.”  kataku sambil pura pura kesal.
Netta menyahutinya, “Wes, jangan marah mba, hehe. Oke deh , kembali pada topik.”
Netta mulai bercerita panjang lebar, tentang kejadian yang dia lihat tadi. Netta memang tidak suka dengan Citra. Aku juga heran. Citra memang orang yang suka banget jadi pusat perhatian. Karena, dirinya cantik.Tapi, padahal Citra dan Netta satu SMP, mungkin memang dari SMP Netta sudah tidak suka dengannya. Apalagi mereka terlihat saling bersaing, jelas sekali rona persaingan terpancar dari kedua mata mereka ketika bertemu. Tiba-tiba lamunanku buyar saat bel masuk berbunyi.
***
    Malamnya,karena aku termasuk siswa yang rajin , jadi aku putuskan saja untuk belajar. Ringtone hapeku berdering , meminta untuk dihentikan.
Ternyata telpon dari Netta, aku jawab saja.
 “Hallo, ada apa Ta?” kataku.
“Dira aku ganggu kamu ya?” tanyanya hati-hati.
“Hah ganggu? Sebenernya sih iya, tapi nggak apa-apa deh, soalnya aku juga sering gangguin orang.” kataku sambil tersenyum.
“Ya ampun, iya deh senengnya kamu aja.”katanya pasrah.
“Ra, aku nginep dirumahmu ya, besok. Sekalian ngerjain cerpen kita, deadlinenya cuma satu bulan kan ?” katanya penuh harap.
“Tumben, kok jadi kamu yang semangat ngerjain cerpennya, hehehe.” kataku meledek.
“Ah, terserah kamu deh, boleh nggak nih ?”
Aku pun menjawabnya iya, dan setelah itu percakapan kami selesai. Mataku mulai lelah, tidur menjadi pilihan terakhir. Daripada aku harus terlihat seperti zombi saat masuk sekolah besok.
***
    Entah apa yang terjadi pada diriku hari ini. Aku merasa semangat sekali untuk sekolah. Memang harusnya begitukan seorang pelajar, aku saja mungkin yang terlalu berlebihan. Sekolah masih terlihat sepi. Terang saja, jam tanganku baru menunjukkan pukul 06.10. Langkahku terdengar menyeret menyusuri koridor, beginilah resiko kelas yang terletak paling pojok. Saat aku melewati koridor terasa angin semilir,sejuk sekali rasanya. Aku pun memejamkan mata merasakan udara segar.
Saat membuka mata, terlihat seseorang berjalan dari arah yang berlawanan. Mataku tidak berkedip sedetikpun. Darah mengalir deras dalam tubuhku. Detak jantungku tidak bisa kukendalikan. Kuperhatikan orang itu diam-diam dengan memasang muka tetap tenang. Orang itu kemudian duduk pada salah satu bangku yang menghadap ke arah lapangan basket. Terlihat earphone terpasang ditelinganya dan dibacanya sebuah buku , oh bukan, novel! Yang sedari tadi dibawanya.
Wajahku semakin berseri-seri. Suasana hatiku sedang senang. Indahnya dunia, hanya itu yang ada dipikiranku.  Tapi, sayangnya aku belum menceritaka kepada Netta, hari ini dia sibuk. Maklum dia ikut OSIS.
    Malam harinya, seperti janji Netta, dia menginap dirumahku. Aku pun langsung menceritakan kejadian tadi pagi dengannya. Tentu, dengan raut muka yang penuh dengan hamparan padang bunga. Wajah orang tadi saja, masih terbayang-bayang dalam benakku. Rasanya ingin cepat hari esok.
“Beneran? Hantu kali hehe...” katanya meledek.
“Beneran juga, makanya kalo berangkat yang pagi, siang terus, ketemunya sama satpam deh bukan cowok keren we...” kataku sebal.
“Iya deh , Mba. Tapi itu anak kelas berapa ya?” tanyanyamendinginkan suasana.
“Yang pasti dia kelas sepuluh,soalnya kalo kelas XI ataupun XII jelas nggak mungkin, itu kan area kelas 10, lagian jauh banget buat mereka.” Netta mengangguk tanda mengerti.
Aku pun melanjutkan hipotesa tentang orang itu, “Dari arah datangnya yang berlawanan, jelas kalau dia baru keluar dari kelasnya.” ucapku penuh keyakinan.
“Kalo dari ceritamu, berarti cuma ada kemungkinan dia . . .” kata Netta melanjutkan perkataanku.
“Anak kelas X6,X7,atau X8.” jawabku dan Netta bersamaan.
Seperti mendapat pencerahan, mataku langsung berbinar-binar. Teriakan Netta membuyarkan anganku.
 “Woy! Kapan buat cerpennya?”
Aku hanya tersenyum sambil mengaruk-garuk kepala. Berkat suasana hatiku yang sedang senang, ide-ide yang muncul dari kepalaku jadi bagus. Kalau si Netta si tinggal menyetujui ideku saja.
“Ta, kira-kira apa lagi ya lanjutannya?” tanyaku sambil menoleh ke arah Netta. Tanpa kusangka Netta sudah tertidur pulas.
“Ya ampun, ini anak malah tidur, yaudah aku juga deh ikut tidur.” kataku. Lalu, kusandarkan kepalaku dibantal, menatap langit-langit kamar, mataku pun terpejam.

***
    “Netta buruan !” kataku sambil menarik tangannya.
“Aduh Dira sayang, sabar aja kenapa, baru jam setengah tujuh juga.” katanya santai.
“Apa kamu bilang jam setengah tujuh? Aku bisa telat nih ketemu cowok yang kemarin.” kataku sedikit kesal.
Netta tak menyahutinya lagi, aku mempercepat langkah, kutinggalkan saja Netta. Sampailah  pada tempat yang aku tuju. Dan begitu aku melihat ke arah bangku itu, tidak terlihat siapa pun. Aku tertunduk lemas. Ku letakkan tas dan datanglah Netta.
“Gimana ketemu nggak ?” tanyanya ketika masuk ke kelas.
“Tau ah.” jawabku kesal.
“Ceritanya marah nih, udahlah lagian itu orang nggak akan lari kemana-mana kok.” hibur Netta.
“Kata-kata Netta ada benarnya juga, dia kan siswa SMA ini, jadi nggak akan pergi , kecuali dia pindah.” pikirku dalam hati.
Aku langsung tersenyum dan memeluk sahabatku itu. Sontak saja Netta kaget dan tubuhnya seolah menolak pelukan itu. Lalu, aku tersadar dan langsung melepaskannya, raut mukaku merah padam.
***
Semenjak pertemuanku dengan orang itu, sekarang tidakada kata malas untuk berangkat pagi. Bagiku sekarang adalah sebuah keharusan. Sebenarnya aku merasa geli sendiri jika mengingat alasanku untuk datang pagi. Hanya ingin bertemu dengan orang itu. Kira-kira dia sadar tidak, aku sering memperhatikannya. Entahlah kalaupun dia tahu dan berniat mengajakku berkenalan , ah mana mungkin aku menolaknya. Tapi, rasanya itu hanya anganku saja. Aku tersenyum sendiri dengan pikiranku.
Sudah sekitar beberapa minggu ini aku hanya bisa menatapnya dari jendela kelasku. Aku selalu berharap dia juga menyadari kehadiranku. Semoga saja Dia itu nyata dan bukan khayalanku saja.
***
Pengumuman cerpen terbaik tiba. Jantungku berdebar kencang. Bagaimana tidak, sebenarnya aku sudah suka menulis dari kecil. Hanya saja itu semua untuk koleksi pribadi. Aku belum punya keberanian untuk memunculkannya ke publik. Berkat ada lomba ini aku bisa belajar, walaupun awalnya aku menolak tapi, sebenarnya kalau memang aku diberi kepercayaan , kenapa tidak? Apalagi ini bukan karya pribadi, tapi tim. Meskipun hanya dua orang sih.
Tanpa disangka cerpenku dan Netta masuk dalam 5 besar karya terbaik! Itu artinya kita punya kesempatan untuk mengikuti pelatihan. Selanjutnya bisa dikirim untuk mengikuti lomba. Ah, rasanya ini awal dari semua mimpiku.
Dari papan pengumuman aku segera mencari Netta. Namun , nihil. Aku hubungi saja ponselnya, tapi tidak ada jawaban darinya. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu objek, aku tercengang. Aku sebenarnya tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Ku hampiri dia.
“Netta.”
Mukanya terlihat kaget.
 “Astaga Dira , daritadi aku nyari kamu.Soalnya kamu tiba-tiba menghilang, jadi aku cuma sendiri yang nerima piagam ini, maaf ya Dira?” katanya dengan raut muka memohon.
Melihatnya menerima piagam itu, rasanya aku sedikit kesal, padahal kan aku yang yang punya ide cerpen itu. Astaga apa yang barusan aku pikirkan. Cepat -cepat kuhilangkan itu. Senyum mengembang dari wajahku.
“Iya Netta , nggak apa-apa, lebih baik ada yang menerima kan dari pada gak ada.” katakupada Netta.
“Makasih Dira” jawabnya tulus sambil menyungginggkan senyuman padaku.
“Oh ya, buat merayakan kemenangan kita , bagaimana kalau nanti sore kita makan? Kali ini aku yang taktir deh!” kataku semangat.
“Mana mungkin Netta menolak makan gratis, sip deh. “ Netta langsung merangkulku dan beranjak keluar dari aula.
***
Sorenya, seperti janjiku pada Netta untuk mentraktirnya makan. Namun, sampai jam dinding rumahku menunjukkan angka 5, Netta tidak kunjung datang. Aku sudah mencoba menghubunginya namun, tidak ada satupun yang dijawab. Tiba-tiba ponselku berdering. Ada sms dari Netta! Aku hanya bisa menghela nafas setelah membaca sms darinya. Seperti dugaanku dia membatalkan janjinya. Aku memang kecewa ,tapi mau bagaimana lagi.
***
Siang itu, pelatihan sudah dimulai. Untung saja aku dan Netta tidak terlambat. Aku masuk ke dalam sebuah ruang kelas, mataku tiba-tiba tidak berkedip pada satu sosok yang duduk paling depan dari pojok. Astaga orang itu!
“Netta, itu dia orang, yang aku ceritain sama kamu!” kataku berbisik.
Arah mataku menunjukkan letak di mana orang itu berada. Aku dan Netta langsung duduk di barisan kedua, tapi bukan dibelakangnya.
“Oh, orang itu.” katanya sambil menunjuk orang itu.
“Aduh, nggak perlu pakai ditunjuk kali.” Langsung kualihkan perhatianku.
    Kami kemudian memperkenalkan diri. Dan setelah mendapat beberapa penjelasan dari pembimbing kami bersepuluh mulai mengakrabkan diri. Acara pada hari itu memang baru perkenalan. Dan saat yang aku tunggu adalah berkenalan dengannya. Mataku tidak pernah berhenti menatapnya, walau curi-curi.
“Hai! Aku Rizal,dari X 7 kalian ?” Orang itu memperkenalkan dirinya padaku!
“Hai! Namaku Dira , dari kelas X 9.” balasku.
“Hai Dira , hai Netta “ sapanya. Hah netta ? Kok bisa, kenapa Netta nggak bilang kalo dia kenal Rizal. Raut mukaku heran, Netta langsung mengerti maksudku.
“Iya Ra, Rizal itu temen SMP ku.” katanya mendingikan suasana.
“Loh, aku baru tau, kalo ternyata kamu suka nulis?” tanyanya heran pada Netta.
“Iya nih.” kata netta sambil tersenyum-senyum.
Selesai pelatihan langsung kuberondong pertanyaan kepadanya.
“Netta kenapa kamu nggak bilang kalau kamu kenal sama dia ?” tanyaku .
“Yah, mana aku tau kalo orang yang kamu maksud itu dia.” jawab Netta.
“ Kalian cuma teman biasa kan ?” tanyaku selidik.
“Ya ampun Dira, ya iyalah lagian Rizal tuh nggak suka sama cewek tipe aku.
“Kalo gitu dia sukanya yang kaya gimana?” tanyaku.
“Tanya aja sendiri we...” kata Netta meledek sambil menjulurkan lidahnya dan lari menjauhiku. Aku pun mengejarnya.
***
    Jadwal pelatihan hanya dua kali dalam seminggu, tapi berhubung kemarin hanya perkenalan, nanti sore akan dilaksanakan pelatihan kembali. Kalau aku sih mana mungkin keberatan. Setiap hari pun, aku oke-oke saja. Masa iya menolak untuk lebih dekat dengan si “ehem” hahaha.
***
Sudah sehari ini aku tidak mengobrol banyak dengan Netta. Sepertinya akhir-akhir ini dia sibuk sekali. Padahal aku ingin bertanya banyak kepadanya tentang Rizal. Netta juga seperti tidak bisa dihubungi lagi. Ada apa ya dengan anak itu ?
    Bagian yang paling aku tunggu dari kegiatan sekolah itu tiba.Pelatihan. Karena pola dudukdibuat lesehan, aku jadi semakin punya banyak kesempatan untuk mengenalnya. Dan aku tidak bisa menyembunyikan muka merahku saat dia duduk disebelahku.
“Loh temenmu yang satu lagi mana?” tanyanya padaku.
“Oh Netta , nggak tau dia sibuk banget akhir-akhir ini, kenapa tanya-tanya dia ?” tanyaku selidik.
“Loh, masa iya aku tanya kamu, orangnya aja ada disini.” jawabnya sambil cengar-cengir. Aku hanya tersenyum, mudah-mudahan dia memang tidak ada apa-apa dengan Netta.
Kami mulai memeperhatikan penjelasan dari pembina. Semua terlihat serius. Hanya aku, Netta, Rizal, dan seorang temannya lagi dari kelas 10 yang berhasil lolos dalam lomba cerpen tersebut. Penjelasan dari pembina selesai, sesi tanya jawab juga sudah selesai, jadi kami diberi waktu sebentar untuk istirahat. Dan mulai dari sini, keakrabkan dengan Rizal terjalin. Dia memang novel freak. Dan bacaanya juga nggak tanggung-tanggung. Ngiri jadinya deh. Nyambung banget ngobrol sama dia. Seru deh!Tapi sayang waktu cepat sekali bergulir, kami harus menyudahinya. Rasanya baru kali ini aku ingin berlama-lama di sekolah.
***
    Sejak kejadian itu, aku jadi semakin akrab dengannya. Bukan hanya di sekolah, via pesan atau telpon tidak kami lewatkan. Sekitar satu bulan lebih aku mengenalnya dan sekarang aku tidak lagi diam-diam memperhatikannya ketika berangkat pagi. Sekarang ada dia yang tersenyum padaku. Tapi ada yang terlupakan olehku, sejak mulai sibuk dengan Rizal aku justru merasa Netta semakin jauh dariku. Bahkan kami sudah tidak duduk bersama lagi. Saat istirahat, aku mencoba mencari Netta. Tidak sabar menceritakan kepadanya tentang hubunganku dan Rizal.
Ketemu juga! Tapi, kok Netta sama Citra ? Apa mereka sudah berbaikan. Kalau begitu, baguslah. Aku juga bosan melihatnya. Aku menghampiri mereka yang sedang asik membicarakan suatu hal.
Tanpa ragu aku menyapa mereka berdua.
“Hai !” sapaku ramah dan penuh keceriaan.
Mereka saling tatap, seolah belum pernah melihatku sebelumnya. Aku hanya berdiri dan tersenyum, sampai akhirnya Citra buka suara.
“Oh ya, Dira ya?” Hai!” Tersungging senyum kaku dari wajahnya.
“Netta, syukur deh kamu udah baikan sama Citra, kan jadi enak diliatnya.” kataku.
“Iya sama-sama.” jawab Netta dingin. Aku jadi bingung apa yang terjadi sebenarnya. Apa aku sudah  melakukan hal yang salah padanya?
“Oh ya Ta, bu Sani nanyain kamu terus kok nggak pernah ikut pelatihan?” tanyaku pada Netta.
“Tolong bilang ya sama beliau kalo aku udah keluar, terima kasih.” katanya dingin.
Netta menggandeng tangan Citra dan pergi meninggalkanku sendiri. Aku hanya bisa terheran melihatnya. Apa ini ada masalahnya dengan Rizal? Atau mungkin sebenarnya mereka ada hubungan spesial, karena Netta tak ingin menyakitu , jadi dia yang mengalah. Aduh masa sih ?
***
Hari berikutnya, mataku menangkap suatu objek yang membuatku terus bertanya-tanya dalam hati. Sepertinya mataku sudah tidak beres. Akhir-akhir ini aku selalu melihat hal-hal aneh yang membuatku galau. Citra dan Rizal. Sedang apa mereka pagi-pagi di kelas Rizal?Setahuku mereka tidak sekelas. Aduh kenapa sekarang sepertinya keadaan tidak memihakku. Belum selesai masalahku dengan Netta sekarang hatiku harus siap menerima kenyataan jika Citra dan Rizal mempunyai hubungan lebih dari teman atau sahabat. Bisa saja ini yang membuat Netta bersikap aneh padaku. Dia merasa aku menjadi penggangu diantara Rizal dan Citra. Tapi apa urusannya dengan Netta? Bukankah selama ini mereka selalu bertengkar. Akhirnya aku mencoba mencari tahu ada apa sebenarnya antara Netta, Citra dan Rizal. Ada hubungan apa mereka? Karena di kelasku tidak ada yang satu SMP dengan Netta, aku putuskan untuk mencarinya di kelas lain. Ada seorang temanku yang kenal dengan siswa yang dulunya satu SMP dengan Netta.
Dia mulai bercerita. Dia memang tidak terlalu kenal dengan mereka berdua namun, yang pasti dia mengatakan bahwa Netta dan Citra adalah dua orang yang tidak bisa dipisahkan. Konflik yang terjadi diantara mereka juga sempat mengebohkan anak-anak angkatan mereka. Konflik yang terjadi adalah masalah ketergantungan mereka yang mulai diperdebatkan. Dan Netta mengultimatum Citra, bahwa dia bisa dapatkan teman yang setia padanya dan membuatnya berprestasi. Dari situ mereka mulai bermusuhan.
Dan menurut ceritanya aku adalah korban dari Netta yang memanfaatkan kepolosanku, untuk bisa kembali dengan Citra. Rasanya aku tidak percaya dengan yang dikatakannya. Orang yang selama ini bersamaku hanya seorang yang munafik. Aku sangat benci dengan mereka berdua. Mereka memang cocok sekali! Tapi, sayangnya dia tidak menceritakan tentang Rizal. Dia tidak begitu tahu tentang anak itu.
Aku jadi merasa orang bodoh,yang bisa dimanfaatkan seenaknya. Aku seperti sebuah pepatah “habis manis sepah dibuang”. Begitu bel pulang berdering, aku bergegas menahan Netta, ingin aku temui anak itu.
“Netta !” panggilku.
“Ada apa sih ?” jawabnya kesal
“Jawab dengan jujur ,apa benar selama ini kamu hanya memanfaatku agar kamu bisa kembali dengan Citra ?” tanyaku ragu.
“Iya!” jawabnya singkat.
“Kenapa dengan mengorbankan aku, sedangkan aku tidak ada hubungannya dengan masalah kalian.” tanyaku berapi-api.
“Memang, tapi kamu adalah orang pertama yang kutemui disekolah ini, lagi pula aku tidak terlalu suka untuk berteman dengan banyak orang” katanya santai.
Dari arah belakang Citra menghampiri kami berdua.
“Ada apa, Ta?” tanyanya heran.
“Ini Ta, akhirnya temanku yang satu ini menyadari juga, kalau aku hanya memanfaatkannya.”kata Netta pada Citra. Senyum kemenangan terlihat diwajah Netta.
“Bagus dong, nggak ada yang perlu disembunyikan lagi.” kata Citra menambahkan.
“Memangnya kalian tidak takut akan dibenci?” tanyaku.
“Dibenci olehmu atau dengan yang lain? Aku tak peduli yang penting aku dan Netta bersama.” Citra tersenyum puas.
“Selamat ya buat kalian!” kataku terdengar sinis dengan senyum terpaksa. Aku bergegas meninggalkannya.
“Oh ya, Dira, sepertinya ada yang terlupakan.” terdengar suara Netta.
Aku berbalik dan keheranan.
“Apa kau  tidak ingin tahu tentang Rizal?” kata Citra menambahkan.
Netta memang sungguh tidak bisa dipercaya. Aku semakin kesal dengan mereka berdua. Aku harap ini terakhir kalinya berurusan dengan mereka berdua. Aku menghampiri mereka kembali.
“Ada apa?” tanyaku malas.
“Dira asal kamu tahu saja kami berdua tidak suka dengan Rizal” katanya.
“Memangnya aku tanya itu pada kalian?” tanyaku kesal.
“Haha, memang kamu tidak bertanya itu tapi, aku yakin kamu ingin mengetahui tentang itu kan?” kata Netta sambil tertawa.
“Kalau hanya itu yang ingin kalian katakan, hanya membuang waktuku saja. “ Aku kembali meneruskan perkataaku. “Lagi pula orang seperti Rizal tidak akan suka dengan sikap kalian.” kataku berapi-api.
“Merasa sudah kenal lama ya dengan Rizal.”nadanya terdengar meremehkan.
“Aku memang baru mengenalnya, tapi aku rasa dia tidak akan menyukai kalian. KalauRizal dekat dengan kalian, karena sebagai teman SMP.” kataku.
“Kalau aku danRizal saudara kembar?” tanya Citra. Aku langsung tersentak kaget.
“Aku tidak percaya.” kataku yakin. 
“Memang banyak orang yang tidak tahu tentang hal itu dan kamu beruntung mengetahuinya.” ucap Citra panjang lebar.
“Kalau kamu masih tidak percaya, tanyakan saja pada Rizal.” kata Netta menambahkan.
Mereka melenggang pergi dariku.Mereka terlihat senang, sedangkan aku? Entahlah, perasaanku sangat tidak karuan.
Aku terpaku menatap keluar jendela kamar. Sedari tadi sms dari Rizal tidak aku balas. Bukan aku menghindarinya. Hanya saja aku belum siap menerima kenyataan. Bisa saja Rizal juga mempermainkanku seperti Netta dan Citra. Aku tidak mau dikecewakan lagi. Tentang Rizal dan Citra adalah saudara kembar aku masih belum 100% percaya. Bisa saja mereka mengada-ada. Tapi kemungkinan itu juga ada. Karena aku pernah melihat mereka berdua bersama, dan kebersamaan mereka bukan sebagai teman.
Hari ini sungguh berat bagiku, kenapa semua rahasia harus terungkap dalam satu hari. Bagaimana aku bisa menyukai Rizal, jika saudara sendirinya adalah orang yang menyakitiku.Dan aku tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Aku harus bagaimana bersikap pada Rizal besok?
***
Entah mengapa, hari ini aku malas sekali berangkat pagi. Selain harus bertemu Rizal, aku juga malas bertemu dengan Netta, juga Citra siangnya. Tapi bukankah masalah harus dihadapi bukan dihindari. Langkahku terdengar teseok-seok, malas sekali rasanya. Untung saja Dewi Fortuna berpihak padaku hari ini, Rizal tidak ada dibangkunya, berarti sudah ada teman sekelasnya yang datang. Syukurlah.
Hari ini, ada pelatihan. Tapi, aku ingin sekali tidak mengikutinya. Rasanya belum siap bertemu Rizal setelah kejadian yang kemarin. Belum lagi aku tidak membalas smsnya ataupun mengangkat telpon darinya. Pasti aku akan diberondong dengan berbagai pertanyaan.
“Hari ini kamu kenapa?” tanya Rizal selidik.
“Nggak kenapa-kenapa kok. “ jawabku datar. Aku tidak habis pikir saja kalau Rizal saudara kembar Citra.
“Rizal boleh aku tanya sesuatu?’ tanyaku hati-hati.
Rizal hanya menganggukkan kepalanya.
“Kamu saudara kembarnya Citra ya?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Iya,memangnya kenapa?” jawabnya santai.
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku.” tanyaku sedikit kesal.
“Karena kamu tidak pernah menanyakannya, memangkenapa kalau aku dan Citra kembar?” tanyanya lagi.
“Karena aku tidak mau dipermainakan lagi.” jawabku singkat. Aku pergi tanpa berpamitan pada Rizal.
Rizal tidak mengerti dengan sikap Dira. Kenapa sikapnya jadi aneh begitu setelah tahu bahwa dirinya dan Citra kembar. Sepertinya ada yang tidak beres. Rizal segera mencari tahunya.
Sesampainya di rumah, lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas. Aku pikir dia memang orang yang tepat, tapi kenyataannya berkata tidak. Mungkin sudah saatnya aku berhenti mengharapkannya, dia bukan pelita jiwa yang aku cari.
***
Siang ini ada pelatihan lagi sampai sore. Huh.Aku menghela napas pelan. Untung saja, selama pelatihan Rizal tidak banyak bertingkah. Sepertinya Dia sudah sadar. Baguslah. Tapi, latihan kali ini terasa lama sekal,i aku ingin cepat-cepat pulang. Hujan deras mengguyur sekolahku ketika pelatihan usai. Itu tandanya aku harus menunggu hujan reda. Menunggu hujan reda sendirian sambil mengingat kejadian akhir-akhir ini membuatku hanya bisa tertunduk lemas. Tiba-tiba, ada seseorang yang menarik tanganku. Aku tidak bisa menolaknya. Sampailah pada sebuah bangku yang terletak di tepi lapangan. Tidak ada orang kecuali aku dan Rizal!
“Maksud kamu apa si pakai tarik-tarik segala?” nada bicaraku kesal.
“Maaf, aku terpaksa melakukan ini , agar kamu mau mendengarkan aku.” katanya memelas.
“Memangnya dengan seperti ini aku jadi mau mendengarkanmu.”kataku kesal.
 “Terserah kamu mau menanggapi  apa, tentang yang mau aku katakan padamu, tapi tolong dengarkan aku.” katanya pasrah.
“Baik aku akan mendengarkanmu.” kataku.
 Awalnya aku malas sekali mendengarkan penjelasannya. Tapi, mendengar bicaranya yang serius dan tatapan matanya penuh harapan, aku jadi merasa bersalah. Mungkin aku memang harus mendengarkannya.
Rizal sudah tahu masalah antara aku, Citra, dan Netta. Dia yang menanyakannya pada Citra. Rizal sungguh tidak habis pikir dengan saudaranya. Dulu,Rizal memang tidak peduli dengan yang dilakukan Citra tapi, sekarang sunguh keterlaluan. Yang membuat aku lebih kaget, Citra dan Rizal hidup terpisah, karena orang tua mereka sudah bercerai. Demi menjaga silatuharmi, merekabersekolah di sekolah yang sama. Makanya Rizal tidak begitu tahu dengan hidup Citra. Hubungan mereka juga tidak terlalu dekat untuk ukuran anak kembar. Sekarang aku sudah tahu semuanya. Harusnya aku tidak terbawa emosi dan cepat mengambil kesimpulan. Kalau begini caranya, aku jadi tambah suka denganRizal! Tanpa sadar aku tersenyum-seyum sendiri.
“Dira kamu kenapa? Kehidupanku lucu ya?” tanyanya heran.
Aku sontak kaget. “Maaf ya Rizal, aku udah berprasangka buruk sama kamu.” ucapku memelas.
“Iya, yang penting semuanya sudah lurus nggak berkelok-kelok lagi.” katanya sambil tersenyum manis.
Mataku tidak bisa berkedip melihat senyumnya yang begitu manis itu. Yang terpenting aku tidak ingin pingsan di tempat ini.
“Jadi kita berteman” suaranya membuyarkan lamunanku dan ku sambut uluran tangannya.
“Berteman.” balasku. Hujan yang reda dan langit yang kembali cerah sepertinya juga ikut senang dengan ini. Walapun, sebenarnya aku menginginkan lebih dari teman, tapi berteman juga sudah cukup membuatku lega.

***
 Hari ini aku datang pagi-pagi seperti biasanya. Sekolah masih terlihat sangat sepi. Sepertinya aku sudah kembali lagi menyukai pagi. Tapi, langkahku sempat terhenti ketika ada satu sosok yang tidak tertangkap lensa mataku. Sosok yang biasa duduk di bangku dengan buku dihadapannya dan earphone yang terpasang dikedua telinganya. Kemana perginya? Dengan malas, kubuka pintu kelas yang masih tertutup karena baru aku yang berangkat. Betapa kagetnya ketika kubuka pintu ada sesosok berdiri dihadapanku sambil tersenyum.
“Rizal!” ucapku masih tidak percaya. Dia hanya tersenyum sambil memberi kertas kecil. Perlahan kubuka kertas itu.





   



Selesai membacanya tubuhku terasa lemas, ingin melayang. Raut mukaku tidak bisamenyembunyikan kegembiraan itu.
“Maukah kau menjadi bagian dariku?” tanyanya mengulang dari tulisan di kertas itu.
“Dengan senang hati.” jawabku mantap. Kami berdua saling tersenyum malu-malu. Rizal mengajakku untuk duduk bersamanya dibangku depan.
***
    Semenjak kejadian itu aku tidak pernah merasa sendiri saat pagi hari. Sekarang ada Rizal yang selalu menyambutku dengan senyuman hangatnya. Bahkan, setiap pagi aku jadi menemaninya duduk menikmati suasana pagi. Netta dan Citra juga sudah tidak menggangguku lagi. Bahkan aku lupa kalau ada mereka dalam masa SMA ku.
    Pagi itu memang indah. Dari pagi aku mendapatkan sesuatu yang tidak dapat ku temui saat siang dan malam datang menghampiri.

Selesai

0 komentar:

Posting Komentar

 

Langit Jingga Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei